Minggu, 18 Oktober 2009

Konsistensi dan Relevansi Gerakan Mahasiswa

oleh : Ares UNAS

Dari dulu gerakan mahasiswa mengiringi proses terjadinya perubahan-perubahan dalam setiap
negara tidak lepas juga dalam sejarah yang ada di Indonesia. Mahasiswa yang notabene adalah agen perubahan serta berfungsi sebagai kontrol
sosial tersebut memberikan kontribusi nyata dalam sejarah kita.
Setelah terjadinya reformasi pada tahun 1998 lalu, ada banyak pergeseran dalam nilai
gerakan mahasiswa yang terwujud. Dimulai dengan terbentuknya opini pada gerakan
mahasiswa yang mulai ditunggangi oleh para elit politik dan elemen lainnya.
Disitu menunjukkan inkonsistensi gerakan mahasiswa dalam berjuang menuntut hak-haknya
yang sehingga tidak bisa terpenuhi. Seakan-akan gerakan tersebut menjual produk
agar dapat dibeli oleh konsumen dan meraup keuntungan pribadi. Layaknya
pedagang.
Tetapi dalam hal ini mahasiswa yang bergerak menyuarakan aspirasinya tersebut seharusnya tidak
bisa memperjual-belikan apapun yang dapat mempengaruhi nilai-nilai gerakan
mahasiswa jadi tercoreng. Sehingga dapat mempertahankan nilai-nilai untuk
kepercayaan umum terhadap gerakan mahasiswa.
Ketika Hariman Siregar memimpin aksi dengan isu Cabut Mandat SBY-JK, banyak elemen yang ikut
gabung dalam aksi tersebut. Baik itu masyarakat dan mahasiswa. Terlepas pada
apa yang harus diperhatikan dengan jelas oleh mahasiswa sebagai aktivis gerakan
adalah, ada di posisi manakah gerakan mahasiswa pada aksi 15 Januari 2007 yang
lalu? Apakah benar-benar mengkritisi pemerintahan SBY-JK atas dasar pesan yang
diterima dari masyarakat? Atau memang bergerak atas dasar adanya konsolidasi
yang dikaitkan dengan para tokoh-tokoh Malari tersebut terutama Hariman Siregar
berikut dengan kepentingan didalamnya?
Ini merupakan tendangan yang cukup kuat bagi nilai-nilai gerakan mahasiswa yang
selama ini mereka perjuangkan untuk adanya pelurusan opini bahwa gerakan
mahasiswa sudah tidak ditunggangi oleh siapapun.
Fakta membuktikan terbalik! Mahasiswa menunjukkan seberapa murahnya mereka sehingga
mudah untuk disiasati. Walaupun ada perbedaan disaat teknis lapangan yang
membentukkan sebuah pola yang beda dalam
aksi tersebut.
Semua dapat mengetahui dengan baik bahwa sebenarnya kenapa aksi Cabut Mandat itu bisa
terbentuk? Karena memang para elit bangsa ini sedang gonjang-ganjing tak terlepas
dari budaya feodalnya yang berkeinginan untuk diperhatikan lebih oleh Presiden SBY.
Sepakat ketika pemerintah mengutarakan kepada mereka agar dapat membuktikan
keberhasilan dan kegagalan pemerintahan SBY-JK ini pada pesta demokrasi dimulai
lagi (PEMILU) karena biar bagaimanapun konstruksi demokratisasi di Indonesia
medianya hanyalah pada saat pesta tersebut, dimana semua rakyat bisa
menentukkan siapa pemimpin yang pantas untuk mendapat mahkota dan kekuasaan di
Indonesia.
Seperti yang sudah diungkapkan oleh juru bicara Kepresidenan Andi Malarangeng bahwa
aksi tersebut adalah aksi-aksi yang seperti biasanya terjadi di depan Istana
Negara, oleh karena itu hasil yang dicapai oleh adanya aksi Cabut Mandat SBY-JK
tersebut bagaikan selentingan aspirasi yang mewarnai demokratisasi di Indonesia
dalam masa kepemimpinan SBY-JK.
Ketika para pendemo menilai adanya kelalaian dalam masa dua tahun pemerintahan
sekarang lalu pemerintah menjawab dengan ukuran waktu periode masa kepemimpinan,
maka pesan-pesan tersebut tidak akan bisa tercapai dengan pembentukan opini ke
masyarakat. Karena kita dapat mengetahui, apabila memang presiden SBY tidak
mempunyai masa lapangan akan tetapi presiden SBY terlihat seorang figure yang
mempunyai banyak fans. Ini yang sangat menarik dalam kharismatik presiden SBY
sekarang.
Apakah mampu massa konkrit dilapangan
dapat mengalahkan semua fans yang mengidolakan presiden SBY ini? Apalagi dengan
melihat kondisi hedonitas sekarang. Maka siapakah yang akan ditertawakan? Cukup
diamati saja apabila kekolotan dipelihara dengan baik maka kehancuran bangsa
ada didepan mata. Sekaligus ini membuat tradisi yang tidak baik sehingga tidak
membentuk kredibilitas yang tinggi untuk diwariskan kepada generasi-generasi
penerus.
Mengingat bahwa Indonesia merupakan Negara yang multikultural, majemuk, beraneka ragam dan lainnya. Jadi tidak bisa apabila sesuatu yang usang itu digunakan kembali di masa sekarang ini. Intinya adalah dulu yaa dulu, sekarang yaa sekarang dan jangan disamakan dong.
Daripada kita (mahasiswa) turun ke jalan menuntut hak-hak orang kecil yang faktanya
mahasiswa jarang bisa bersekutu dengan rakyat tersebut lebih baik kita aksi
turun ke jalan menuntut subyektif kita yang meliputi keinginan orang lain.
Contohnya seperti kita mengkritisi pemerintah yang tidak bisa untuk
mengakomodir fantasi anak-anak jalanan yang putus sekolah untuk dapat merasakan
fantasi yang diinginkan, atau kita aksi menuntut hak-hak kita sebagai mahasiswa
dan pemuda kepada pemerintah untuk dibuatkan tempat berpacaran.
Pemerintah tidak pernah memperhatikan hal-hal lain tersebut padahal hal itu cukup mudah
dilakukan dan kita pun terkadang jadi lupa hak-hak yang tertinggal tersebut.
Bukan berarti kita berpikir untuk individualistis akan tetapi mencari manfaat
dari individualisasi untuk membentuk sebuah gerakan.
Jadi yang bisa menilai konsistensi dan relevansi dari gerakan mahasiswa adalah
masyarakat non konstitusional dan para mahasiswa sendiri. Ketika terjadinya
pergeseran nilai gerakan ini maka kita harus bisa membuat formulasi untuk
bergerak dan memfungsikan kita seperti sejarah-sejarah yang sudah mewarnai
gerakan mahasiswa di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar