Minggu, 18 Oktober 2009

A Glance Of Flamenco

hello guyz....
gw lagi belajar membuat blog nih,
blog ini tidak ada batasan ruang lingkup, kita bisa membahas semuanya disini,
kenapa nama blog gw " The Flamenco " karena gw interest banget sama genre tersebut,

apa itu flamenco ???


Flamenco
adalah kesenian rakyat tradisional komunitas gipsi dari Andalusia di selatan Spanyol. Musik ini berkembang menjadi hiburan kalangan terhormat dan dimainkan di kafe-kafe menjelang abad ke-19. Selain tarian dan nyanyian, tepukan tangan dan entakan kaki menjadi ciri flamenco. Selanjutnya, elemen gitar masuk menjadi unsur utama dalam beberapa genre.

** mungkin itu hanya sekedar intermezzo saja,hehe...

Konsistensi dan Relevansi Gerakan Mahasiswa

oleh : Ares UNAS

Dari dulu gerakan mahasiswa mengiringi proses terjadinya perubahan-perubahan dalam setiap
negara tidak lepas juga dalam sejarah yang ada di Indonesia. Mahasiswa yang notabene adalah agen perubahan serta berfungsi sebagai kontrol
sosial tersebut memberikan kontribusi nyata dalam sejarah kita.
Setelah terjadinya reformasi pada tahun 1998 lalu, ada banyak pergeseran dalam nilai
gerakan mahasiswa yang terwujud. Dimulai dengan terbentuknya opini pada gerakan
mahasiswa yang mulai ditunggangi oleh para elit politik dan elemen lainnya.
Disitu menunjukkan inkonsistensi gerakan mahasiswa dalam berjuang menuntut hak-haknya
yang sehingga tidak bisa terpenuhi. Seakan-akan gerakan tersebut menjual produk
agar dapat dibeli oleh konsumen dan meraup keuntungan pribadi. Layaknya
pedagang.
Tetapi dalam hal ini mahasiswa yang bergerak menyuarakan aspirasinya tersebut seharusnya tidak
bisa memperjual-belikan apapun yang dapat mempengaruhi nilai-nilai gerakan
mahasiswa jadi tercoreng. Sehingga dapat mempertahankan nilai-nilai untuk
kepercayaan umum terhadap gerakan mahasiswa.
Ketika Hariman Siregar memimpin aksi dengan isu Cabut Mandat SBY-JK, banyak elemen yang ikut
gabung dalam aksi tersebut. Baik itu masyarakat dan mahasiswa. Terlepas pada
apa yang harus diperhatikan dengan jelas oleh mahasiswa sebagai aktivis gerakan
adalah, ada di posisi manakah gerakan mahasiswa pada aksi 15 Januari 2007 yang
lalu? Apakah benar-benar mengkritisi pemerintahan SBY-JK atas dasar pesan yang
diterima dari masyarakat? Atau memang bergerak atas dasar adanya konsolidasi
yang dikaitkan dengan para tokoh-tokoh Malari tersebut terutama Hariman Siregar
berikut dengan kepentingan didalamnya?
Ini merupakan tendangan yang cukup kuat bagi nilai-nilai gerakan mahasiswa yang
selama ini mereka perjuangkan untuk adanya pelurusan opini bahwa gerakan
mahasiswa sudah tidak ditunggangi oleh siapapun.
Fakta membuktikan terbalik! Mahasiswa menunjukkan seberapa murahnya mereka sehingga
mudah untuk disiasati. Walaupun ada perbedaan disaat teknis lapangan yang
membentukkan sebuah pola yang beda dalam
aksi tersebut.
Semua dapat mengetahui dengan baik bahwa sebenarnya kenapa aksi Cabut Mandat itu bisa
terbentuk? Karena memang para elit bangsa ini sedang gonjang-ganjing tak terlepas
dari budaya feodalnya yang berkeinginan untuk diperhatikan lebih oleh Presiden SBY.
Sepakat ketika pemerintah mengutarakan kepada mereka agar dapat membuktikan
keberhasilan dan kegagalan pemerintahan SBY-JK ini pada pesta demokrasi dimulai
lagi (PEMILU) karena biar bagaimanapun konstruksi demokratisasi di Indonesia
medianya hanyalah pada saat pesta tersebut, dimana semua rakyat bisa
menentukkan siapa pemimpin yang pantas untuk mendapat mahkota dan kekuasaan di
Indonesia.
Seperti yang sudah diungkapkan oleh juru bicara Kepresidenan Andi Malarangeng bahwa
aksi tersebut adalah aksi-aksi yang seperti biasanya terjadi di depan Istana
Negara, oleh karena itu hasil yang dicapai oleh adanya aksi Cabut Mandat SBY-JK
tersebut bagaikan selentingan aspirasi yang mewarnai demokratisasi di Indonesia
dalam masa kepemimpinan SBY-JK.
Ketika para pendemo menilai adanya kelalaian dalam masa dua tahun pemerintahan
sekarang lalu pemerintah menjawab dengan ukuran waktu periode masa kepemimpinan,
maka pesan-pesan tersebut tidak akan bisa tercapai dengan pembentukan opini ke
masyarakat. Karena kita dapat mengetahui, apabila memang presiden SBY tidak
mempunyai masa lapangan akan tetapi presiden SBY terlihat seorang figure yang
mempunyai banyak fans. Ini yang sangat menarik dalam kharismatik presiden SBY
sekarang.
Apakah mampu massa konkrit dilapangan
dapat mengalahkan semua fans yang mengidolakan presiden SBY ini? Apalagi dengan
melihat kondisi hedonitas sekarang. Maka siapakah yang akan ditertawakan? Cukup
diamati saja apabila kekolotan dipelihara dengan baik maka kehancuran bangsa
ada didepan mata. Sekaligus ini membuat tradisi yang tidak baik sehingga tidak
membentuk kredibilitas yang tinggi untuk diwariskan kepada generasi-generasi
penerus.
Mengingat bahwa Indonesia merupakan Negara yang multikultural, majemuk, beraneka ragam dan lainnya. Jadi tidak bisa apabila sesuatu yang usang itu digunakan kembali di masa sekarang ini. Intinya adalah dulu yaa dulu, sekarang yaa sekarang dan jangan disamakan dong.
Daripada kita (mahasiswa) turun ke jalan menuntut hak-hak orang kecil yang faktanya
mahasiswa jarang bisa bersekutu dengan rakyat tersebut lebih baik kita aksi
turun ke jalan menuntut subyektif kita yang meliputi keinginan orang lain.
Contohnya seperti kita mengkritisi pemerintah yang tidak bisa untuk
mengakomodir fantasi anak-anak jalanan yang putus sekolah untuk dapat merasakan
fantasi yang diinginkan, atau kita aksi menuntut hak-hak kita sebagai mahasiswa
dan pemuda kepada pemerintah untuk dibuatkan tempat berpacaran.
Pemerintah tidak pernah memperhatikan hal-hal lain tersebut padahal hal itu cukup mudah
dilakukan dan kita pun terkadang jadi lupa hak-hak yang tertinggal tersebut.
Bukan berarti kita berpikir untuk individualistis akan tetapi mencari manfaat
dari individualisasi untuk membentuk sebuah gerakan.
Jadi yang bisa menilai konsistensi dan relevansi dari gerakan mahasiswa adalah
masyarakat non konstitusional dan para mahasiswa sendiri. Ketika terjadinya
pergeseran nilai gerakan ini maka kita harus bisa membuat formulasi untuk
bergerak dan memfungsikan kita seperti sejarah-sejarah yang sudah mewarnai
gerakan mahasiswa di Indonesia.

Mengapa Organisasi Membutuhkan Pemimpin Transformasional?

Oleh: Dr. Dwi Suryanto, Ph.D

Perubahan. Itulah kata kunci yang sedang dihadapi organisasi sekarang ini. Dunia bisnis lebih merasakan betapa gempuran perubahan demikian dahsyat. Persaingan yang makin menggila. Biaya produksi yang makin membengkak. Harga minyak, listrik, dan telepon yang terus menanjak.

Konsumen yang makin pintar. Serikat pekerja yang makin agresif menyuarakan hak-hak karyawan. Teroris dengan bomnya yang meledak di mana-mana. Tuntutan pemegang saham yang makin tidak sabar terhadap rencana jangka panjang perusahaan, dan begitu banyak lagi tantangan yang dihadapi berbagai perusahaan sekarang ini.

“Kualitas kepemimpinan, lebih dari pada faktor lainnya, menentukan sukses atau gagalnya sebuah organisasi”
- FRED FIEDLER & MARTIN CHEMERS

Di dunia pemerintahan, sipil, dan lembaga non-profit, tuntutan dari banyak pihak juga makin merepotkan. Tuntutan transparansi, bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme telah membuat lembaga pemerintah makin hati-hati menjalankan aktivitasnya. Tuntutan masyarakat terhadap layanan publik juga makin tinggi. Anggaran yang makin menipis seiring dengan kesulitan keuangan negara makin memperparah kondisi ini.

Dunia bisnis internasional juga ini sedang menghadapi perubahan yang dahsyat. Tidak saja bisnis menghadapi lingkungan bisnis yang keras, namun organisasi sekarang ini juga lebih peduli kepada kualitas para pemimpinnya. Ada kepedulian yang besar akan adanya krisis kepemimpinan di dunia bisnis.

Pertimbangkan hal berikut: Dalam survei di tahun 2003 yang diadakan oleh Development Dimensions International yang melibatkan lebih dari 1000 organisasi seluruh dunia, didapat fakta, pengembangan kepemimpinan adalah tantangan utama yang dihadapi oleh banyak organisasi tersebut. Masih di tahun 2003, majalah Chief Executive meneliti sebanyak 756 organisasi, dan menemukan, pengembangan kepemimpinan adalah salah satu dari lima prioritas utama dunia bisnis. Studi di akhir tahun 2002, oleh The Conference Board mendapati, hanya sepertiga dari 150 perusahaan yang beroperasi global berani mengatakan, kapasitas pemimpin yang mereka miliki dalam kategori baik atau istimewa.

Perubahan, ya perubahan yang mengakibatkan kekacauan itu. Tapi, organisasi harus menghadapi perubahan itu. Banyak perusahaan langsung saja melakukan restrukturisasi, reformasi, revitalisasi organisasi, reinventing bisnis, dan berbagai istilah hebat lainnya. Semua jargon itu, hanya menyuarakan satu suara, mereka ingin menghadapi perubahan itu dengan sukses.

Ketika kita bicara tentang sukses, maka kuncinya hanyalah pada manusianya. Boleh saja metode perubahan hebat, teknologi paling mutakhir, konsultannya kelas dunia, biaya perubahan tak terbatas, namun yang mampu mengubah segala sesuatu hanyalah orang-orang, para pemimpin dan karyawan organisasi itu. Jelas dibutuhkan pemimpin yang mampu memimpin perubahan itu.

Menurut Burns (1978), seorang pakar kepemimpinan kelas dunia, pemimpin transformasional-lah yang mampu dengan sukses melakukan perubahan itu.

Mengapa? Karena pemimpin transformasional menyediakan visi yang jelas bagi perubahan itu. Ia memiliki tujuan-tujuan yang jelas yang bisa membimbing organisasi itu menuju arah yang baru. Ia memiliki kemampuan untuk mundur sejenak dari aktivitas sehari-hari dan melihat keseluruhan proses perubahan dalam jangka panjang. Ia kadang bisa seperti seorang yang menonton karnaval di sisi jalan dan ikut sibuk melihat hiruk pikuknya karnaval itu, namun ia pun secara teratur mampu berdiri di loteng untuk melihat arah yang dituju dari arak-arakan itu.

Ia menekankan pentingnya melihat kemungkinan-kemungkinan baru, dan ia juga mempromosikan visi masa datang yang menggairahkan. Perilakunya yang selalu mencerminkan sense of purpose, makin meyakinkan pengikutnya bahwa visi itu akan mampu mereka capai.

Ia orang yang mampu membangkitkan inspirasi pada orang lain. Ia juga selalu menjadi contoh bagi karyawannya. Tujuan perubahan adalah mencapai kemungkinan-kemungkinan baru yang lebih menyenangkan dan juga mampu bertahan hidup selama mungkin. Untuk mencapainya, karyawan harus selalu memperoleh “suntikan” energi dari para pemimpinnya.

Pemimpin transformasional mampu menyediakan energi itu, dan bahkan energinya mengalir terus melingkupi para bawahannya.

Ia mempengaruhi cara berpikir baru kepada karyawannya dan ia memperkenalkan proses-proses baru dalam organisasinya. Ia sadarkan karyawan tentang pentingnya perubahan terhadap eksistensi organisasinya. Perubahan adalah suatu proses. Oleh karenanya, ia akan mengubah dulu proses di pikiran karyawan. Agar proses perubahan pemikiran berjalan mulus, ia jelaskan konsep-konsepnya dengan jelas dan sederhana.

Ia tekankan pentingnya memperoleh kebermaknaan yang tinggi dalam bekerja daripada hanya sekedar bekerja mencari nafkah. Di atas segalanya, ia mengajak karyawan untuk selalu belajar, dan ia sendiri menunjukkan bahwa ia adalah seorang pembelajar sejati.

“Problem signifikan yang kita hadapi, tidak dapat kita pecahkan dengan tingkat pikiran yang sama ketika kita menciptakan masalah itu

- ALBERT EINSTEIN

Ia ingin menarik keluar semua kualitas tertinggi manusia. Oleh karenanya, dirinya selalu terkawal oleh tujuan yang jelas, nilai-nilai, moral, dan etika yang tinggi. Ia ingin mengajak pengikutnya mencapai ketinggian derajat manusia. Ia ingin pengikutnya mampu memunculkan potensi mereka, dan mengarahkannya menuju arah-arah yang baru. Dengan berbagai prosesnya (yang dibahas panjang lebar di buku ini), ia mampu mempengaruhi kondisi psikologis dan perilaku bawahan, menuju nilai-nilai baru yang lebih tinggi.

Ia juga menyadari pentingnya budaya dalam perubahan. Ia mampu melihat budaya, seringkali menghalangi upaya perubahan, oleh karenanya, ia siap untuk mengubah budaya itu. Ia menyadari, apa pun upayanya, akan sering terhambat jika budaya di organisasi itu tidak mendukung perubahan. Tapi ia juga tahu, budaya adalah orang-orang. Orang-orang itu memiliki tujuan, komitmen, dan kepentingan masing-masing. Ia akan “membelokkan” kemudian “menyejajarkan” kepentingan pribadi orang-orang dengan kepentingan organisasi.

Ia bergerak “masuk” ke dalam pikiran orang dengan maksud membantunya. Ia menyadari pentingnya “mengusir” rasa takut berubah yang bersemayam dalam benak para pengikutnya. Ia tahu, ketakutan lebih sering karena orang tidak tahu banyak tentang apa yang ditakutkannya, maka ia mengajak karyawan “keluar” dari ketakutan itu, dan ia sendiri menjadi orang pertama yang menghadapi ketakutan itu. Ia menjadikan dirinya bisa dipercaya, dan ia siap menjadi “pelabuhan hati” bagi para pengikutnya.

Ia adalah orang piawai yang mampu membangkitkan komitmen para pengikutnya. Ia mampu meyakinkan pengikutnya, bahwa apa pun upayanya, hanyalah demi mencapai misi organisasi. Ia tidak menempatkan kepentingan pribadinya sebagai prioritas utama.

Ia orang yang menekankan pentingnya kerjasama tim. Membangkitkan inovasi adalah pekerjaannya sehari-hari. Ia sendiri bisa menunjukkan bahwa ia adalah anggota tim yang baik. Ia bangkitkan kerjasama yang harmonis pada para anggota tim organisasi itu.

Perubahan budaya yang ia canangkan, semata-mata untuk menaikkan kinerja para pengikutnya. Ia bahkan siap menerapkan sistem-sistem teknologi tinggi untuk mencapai perubahan yang berkelas tinggi.

Mendengarkan, memperhatikan, menghargai, dan melayani pengikutnya adalah perilaku sehari-hari pemimpin transformasional ini. Akibatnya, para pengikutnya dengan senang hati mengikuti apa saja yang ia katakan. Mereka telah yakin bahwa pemimpinnya itu bergerak hanya demi kebaikan mereka semua.

Ia memandang organisasi bukanlah hanya sekedar sekumpulan orang pencari nafkah. Ia melihat bahwa organisasi itu harus mampu memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar. Ia tentu saja tidak mau jika organisasinya mengakibatkan kerusakan lingkungan atau kerugian orang banyak. Ia mampu mengatur organisasinya bergerak dan beradaptasi terhadap lingkungan.

Jika orang menyelam ke kedalaman sanubari pemimpin ini, di dalamnya hanya ada cinta. Ia mencintai orang. Ia mencintai alam, ia mencintai karyawan, pelanggan, pemasok, dan pemegang saham. Cinta yang ia pancarkan itu, karena ia telah merasakan betapa ia hadir di dunia ini karena cinta, dan karena cinta dari Sang Pencinta Besar-lah ia bisa menjalankan misinya di kehidupan ini.

Oleh karenanya, ia ingin nanti membawa karyanya di dunia ini kepada Penciptanya dengan besar hati. Satu kata yang tepat mewakili pemimpin ini, ia adalah seorang pemimpin efektif, sekaligus seorang spiritualis.

Itulah sebagian saja sebab-sebab mengapa pemimpin transformasional sangat dibutuhkan organisasi sekarang ini. Para pemimpin bisnis di seluruh dunia dan para peneliti telah memujikan pentingnya penerapan kepemimpinan transformasional itu. Oleh karenanya, bacalah, selami, dan refleksikan apa yang anda baca. Saya yakin anda akan sepakat dengan pendapat para pebisnis dan para pakar tadi.