Minggu, 18 Oktober 2009

A Glance Of Flamenco

hello guyz....
gw lagi belajar membuat blog nih,
blog ini tidak ada batasan ruang lingkup, kita bisa membahas semuanya disini,
kenapa nama blog gw " The Flamenco " karena gw interest banget sama genre tersebut,

apa itu flamenco ???


Flamenco
adalah kesenian rakyat tradisional komunitas gipsi dari Andalusia di selatan Spanyol. Musik ini berkembang menjadi hiburan kalangan terhormat dan dimainkan di kafe-kafe menjelang abad ke-19. Selain tarian dan nyanyian, tepukan tangan dan entakan kaki menjadi ciri flamenco. Selanjutnya, elemen gitar masuk menjadi unsur utama dalam beberapa genre.

** mungkin itu hanya sekedar intermezzo saja,hehe...

Konsistensi dan Relevansi Gerakan Mahasiswa

oleh : Ares UNAS

Dari dulu gerakan mahasiswa mengiringi proses terjadinya perubahan-perubahan dalam setiap
negara tidak lepas juga dalam sejarah yang ada di Indonesia. Mahasiswa yang notabene adalah agen perubahan serta berfungsi sebagai kontrol
sosial tersebut memberikan kontribusi nyata dalam sejarah kita.
Setelah terjadinya reformasi pada tahun 1998 lalu, ada banyak pergeseran dalam nilai
gerakan mahasiswa yang terwujud. Dimulai dengan terbentuknya opini pada gerakan
mahasiswa yang mulai ditunggangi oleh para elit politik dan elemen lainnya.
Disitu menunjukkan inkonsistensi gerakan mahasiswa dalam berjuang menuntut hak-haknya
yang sehingga tidak bisa terpenuhi. Seakan-akan gerakan tersebut menjual produk
agar dapat dibeli oleh konsumen dan meraup keuntungan pribadi. Layaknya
pedagang.
Tetapi dalam hal ini mahasiswa yang bergerak menyuarakan aspirasinya tersebut seharusnya tidak
bisa memperjual-belikan apapun yang dapat mempengaruhi nilai-nilai gerakan
mahasiswa jadi tercoreng. Sehingga dapat mempertahankan nilai-nilai untuk
kepercayaan umum terhadap gerakan mahasiswa.
Ketika Hariman Siregar memimpin aksi dengan isu Cabut Mandat SBY-JK, banyak elemen yang ikut
gabung dalam aksi tersebut. Baik itu masyarakat dan mahasiswa. Terlepas pada
apa yang harus diperhatikan dengan jelas oleh mahasiswa sebagai aktivis gerakan
adalah, ada di posisi manakah gerakan mahasiswa pada aksi 15 Januari 2007 yang
lalu? Apakah benar-benar mengkritisi pemerintahan SBY-JK atas dasar pesan yang
diterima dari masyarakat? Atau memang bergerak atas dasar adanya konsolidasi
yang dikaitkan dengan para tokoh-tokoh Malari tersebut terutama Hariman Siregar
berikut dengan kepentingan didalamnya?
Ini merupakan tendangan yang cukup kuat bagi nilai-nilai gerakan mahasiswa yang
selama ini mereka perjuangkan untuk adanya pelurusan opini bahwa gerakan
mahasiswa sudah tidak ditunggangi oleh siapapun.
Fakta membuktikan terbalik! Mahasiswa menunjukkan seberapa murahnya mereka sehingga
mudah untuk disiasati. Walaupun ada perbedaan disaat teknis lapangan yang
membentukkan sebuah pola yang beda dalam
aksi tersebut.
Semua dapat mengetahui dengan baik bahwa sebenarnya kenapa aksi Cabut Mandat itu bisa
terbentuk? Karena memang para elit bangsa ini sedang gonjang-ganjing tak terlepas
dari budaya feodalnya yang berkeinginan untuk diperhatikan lebih oleh Presiden SBY.
Sepakat ketika pemerintah mengutarakan kepada mereka agar dapat membuktikan
keberhasilan dan kegagalan pemerintahan SBY-JK ini pada pesta demokrasi dimulai
lagi (PEMILU) karena biar bagaimanapun konstruksi demokratisasi di Indonesia
medianya hanyalah pada saat pesta tersebut, dimana semua rakyat bisa
menentukkan siapa pemimpin yang pantas untuk mendapat mahkota dan kekuasaan di
Indonesia.
Seperti yang sudah diungkapkan oleh juru bicara Kepresidenan Andi Malarangeng bahwa
aksi tersebut adalah aksi-aksi yang seperti biasanya terjadi di depan Istana
Negara, oleh karena itu hasil yang dicapai oleh adanya aksi Cabut Mandat SBY-JK
tersebut bagaikan selentingan aspirasi yang mewarnai demokratisasi di Indonesia
dalam masa kepemimpinan SBY-JK.
Ketika para pendemo menilai adanya kelalaian dalam masa dua tahun pemerintahan
sekarang lalu pemerintah menjawab dengan ukuran waktu periode masa kepemimpinan,
maka pesan-pesan tersebut tidak akan bisa tercapai dengan pembentukan opini ke
masyarakat. Karena kita dapat mengetahui, apabila memang presiden SBY tidak
mempunyai masa lapangan akan tetapi presiden SBY terlihat seorang figure yang
mempunyai banyak fans. Ini yang sangat menarik dalam kharismatik presiden SBY
sekarang.
Apakah mampu massa konkrit dilapangan
dapat mengalahkan semua fans yang mengidolakan presiden SBY ini? Apalagi dengan
melihat kondisi hedonitas sekarang. Maka siapakah yang akan ditertawakan? Cukup
diamati saja apabila kekolotan dipelihara dengan baik maka kehancuran bangsa
ada didepan mata. Sekaligus ini membuat tradisi yang tidak baik sehingga tidak
membentuk kredibilitas yang tinggi untuk diwariskan kepada generasi-generasi
penerus.
Mengingat bahwa Indonesia merupakan Negara yang multikultural, majemuk, beraneka ragam dan lainnya. Jadi tidak bisa apabila sesuatu yang usang itu digunakan kembali di masa sekarang ini. Intinya adalah dulu yaa dulu, sekarang yaa sekarang dan jangan disamakan dong.
Daripada kita (mahasiswa) turun ke jalan menuntut hak-hak orang kecil yang faktanya
mahasiswa jarang bisa bersekutu dengan rakyat tersebut lebih baik kita aksi
turun ke jalan menuntut subyektif kita yang meliputi keinginan orang lain.
Contohnya seperti kita mengkritisi pemerintah yang tidak bisa untuk
mengakomodir fantasi anak-anak jalanan yang putus sekolah untuk dapat merasakan
fantasi yang diinginkan, atau kita aksi menuntut hak-hak kita sebagai mahasiswa
dan pemuda kepada pemerintah untuk dibuatkan tempat berpacaran.
Pemerintah tidak pernah memperhatikan hal-hal lain tersebut padahal hal itu cukup mudah
dilakukan dan kita pun terkadang jadi lupa hak-hak yang tertinggal tersebut.
Bukan berarti kita berpikir untuk individualistis akan tetapi mencari manfaat
dari individualisasi untuk membentuk sebuah gerakan.
Jadi yang bisa menilai konsistensi dan relevansi dari gerakan mahasiswa adalah
masyarakat non konstitusional dan para mahasiswa sendiri. Ketika terjadinya
pergeseran nilai gerakan ini maka kita harus bisa membuat formulasi untuk
bergerak dan memfungsikan kita seperti sejarah-sejarah yang sudah mewarnai
gerakan mahasiswa di Indonesia.

Mengapa Organisasi Membutuhkan Pemimpin Transformasional?

Oleh: Dr. Dwi Suryanto, Ph.D

Perubahan. Itulah kata kunci yang sedang dihadapi organisasi sekarang ini. Dunia bisnis lebih merasakan betapa gempuran perubahan demikian dahsyat. Persaingan yang makin menggila. Biaya produksi yang makin membengkak. Harga minyak, listrik, dan telepon yang terus menanjak.

Konsumen yang makin pintar. Serikat pekerja yang makin agresif menyuarakan hak-hak karyawan. Teroris dengan bomnya yang meledak di mana-mana. Tuntutan pemegang saham yang makin tidak sabar terhadap rencana jangka panjang perusahaan, dan begitu banyak lagi tantangan yang dihadapi berbagai perusahaan sekarang ini.

“Kualitas kepemimpinan, lebih dari pada faktor lainnya, menentukan sukses atau gagalnya sebuah organisasi”
- FRED FIEDLER & MARTIN CHEMERS

Di dunia pemerintahan, sipil, dan lembaga non-profit, tuntutan dari banyak pihak juga makin merepotkan. Tuntutan transparansi, bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme telah membuat lembaga pemerintah makin hati-hati menjalankan aktivitasnya. Tuntutan masyarakat terhadap layanan publik juga makin tinggi. Anggaran yang makin menipis seiring dengan kesulitan keuangan negara makin memperparah kondisi ini.

Dunia bisnis internasional juga ini sedang menghadapi perubahan yang dahsyat. Tidak saja bisnis menghadapi lingkungan bisnis yang keras, namun organisasi sekarang ini juga lebih peduli kepada kualitas para pemimpinnya. Ada kepedulian yang besar akan adanya krisis kepemimpinan di dunia bisnis.

Pertimbangkan hal berikut: Dalam survei di tahun 2003 yang diadakan oleh Development Dimensions International yang melibatkan lebih dari 1000 organisasi seluruh dunia, didapat fakta, pengembangan kepemimpinan adalah tantangan utama yang dihadapi oleh banyak organisasi tersebut. Masih di tahun 2003, majalah Chief Executive meneliti sebanyak 756 organisasi, dan menemukan, pengembangan kepemimpinan adalah salah satu dari lima prioritas utama dunia bisnis. Studi di akhir tahun 2002, oleh The Conference Board mendapati, hanya sepertiga dari 150 perusahaan yang beroperasi global berani mengatakan, kapasitas pemimpin yang mereka miliki dalam kategori baik atau istimewa.

Perubahan, ya perubahan yang mengakibatkan kekacauan itu. Tapi, organisasi harus menghadapi perubahan itu. Banyak perusahaan langsung saja melakukan restrukturisasi, reformasi, revitalisasi organisasi, reinventing bisnis, dan berbagai istilah hebat lainnya. Semua jargon itu, hanya menyuarakan satu suara, mereka ingin menghadapi perubahan itu dengan sukses.

Ketika kita bicara tentang sukses, maka kuncinya hanyalah pada manusianya. Boleh saja metode perubahan hebat, teknologi paling mutakhir, konsultannya kelas dunia, biaya perubahan tak terbatas, namun yang mampu mengubah segala sesuatu hanyalah orang-orang, para pemimpin dan karyawan organisasi itu. Jelas dibutuhkan pemimpin yang mampu memimpin perubahan itu.

Menurut Burns (1978), seorang pakar kepemimpinan kelas dunia, pemimpin transformasional-lah yang mampu dengan sukses melakukan perubahan itu.

Mengapa? Karena pemimpin transformasional menyediakan visi yang jelas bagi perubahan itu. Ia memiliki tujuan-tujuan yang jelas yang bisa membimbing organisasi itu menuju arah yang baru. Ia memiliki kemampuan untuk mundur sejenak dari aktivitas sehari-hari dan melihat keseluruhan proses perubahan dalam jangka panjang. Ia kadang bisa seperti seorang yang menonton karnaval di sisi jalan dan ikut sibuk melihat hiruk pikuknya karnaval itu, namun ia pun secara teratur mampu berdiri di loteng untuk melihat arah yang dituju dari arak-arakan itu.

Ia menekankan pentingnya melihat kemungkinan-kemungkinan baru, dan ia juga mempromosikan visi masa datang yang menggairahkan. Perilakunya yang selalu mencerminkan sense of purpose, makin meyakinkan pengikutnya bahwa visi itu akan mampu mereka capai.

Ia orang yang mampu membangkitkan inspirasi pada orang lain. Ia juga selalu menjadi contoh bagi karyawannya. Tujuan perubahan adalah mencapai kemungkinan-kemungkinan baru yang lebih menyenangkan dan juga mampu bertahan hidup selama mungkin. Untuk mencapainya, karyawan harus selalu memperoleh “suntikan” energi dari para pemimpinnya.

Pemimpin transformasional mampu menyediakan energi itu, dan bahkan energinya mengalir terus melingkupi para bawahannya.

Ia mempengaruhi cara berpikir baru kepada karyawannya dan ia memperkenalkan proses-proses baru dalam organisasinya. Ia sadarkan karyawan tentang pentingnya perubahan terhadap eksistensi organisasinya. Perubahan adalah suatu proses. Oleh karenanya, ia akan mengubah dulu proses di pikiran karyawan. Agar proses perubahan pemikiran berjalan mulus, ia jelaskan konsep-konsepnya dengan jelas dan sederhana.

Ia tekankan pentingnya memperoleh kebermaknaan yang tinggi dalam bekerja daripada hanya sekedar bekerja mencari nafkah. Di atas segalanya, ia mengajak karyawan untuk selalu belajar, dan ia sendiri menunjukkan bahwa ia adalah seorang pembelajar sejati.

“Problem signifikan yang kita hadapi, tidak dapat kita pecahkan dengan tingkat pikiran yang sama ketika kita menciptakan masalah itu

- ALBERT EINSTEIN

Ia ingin menarik keluar semua kualitas tertinggi manusia. Oleh karenanya, dirinya selalu terkawal oleh tujuan yang jelas, nilai-nilai, moral, dan etika yang tinggi. Ia ingin mengajak pengikutnya mencapai ketinggian derajat manusia. Ia ingin pengikutnya mampu memunculkan potensi mereka, dan mengarahkannya menuju arah-arah yang baru. Dengan berbagai prosesnya (yang dibahas panjang lebar di buku ini), ia mampu mempengaruhi kondisi psikologis dan perilaku bawahan, menuju nilai-nilai baru yang lebih tinggi.

Ia juga menyadari pentingnya budaya dalam perubahan. Ia mampu melihat budaya, seringkali menghalangi upaya perubahan, oleh karenanya, ia siap untuk mengubah budaya itu. Ia menyadari, apa pun upayanya, akan sering terhambat jika budaya di organisasi itu tidak mendukung perubahan. Tapi ia juga tahu, budaya adalah orang-orang. Orang-orang itu memiliki tujuan, komitmen, dan kepentingan masing-masing. Ia akan “membelokkan” kemudian “menyejajarkan” kepentingan pribadi orang-orang dengan kepentingan organisasi.

Ia bergerak “masuk” ke dalam pikiran orang dengan maksud membantunya. Ia menyadari pentingnya “mengusir” rasa takut berubah yang bersemayam dalam benak para pengikutnya. Ia tahu, ketakutan lebih sering karena orang tidak tahu banyak tentang apa yang ditakutkannya, maka ia mengajak karyawan “keluar” dari ketakutan itu, dan ia sendiri menjadi orang pertama yang menghadapi ketakutan itu. Ia menjadikan dirinya bisa dipercaya, dan ia siap menjadi “pelabuhan hati” bagi para pengikutnya.

Ia adalah orang piawai yang mampu membangkitkan komitmen para pengikutnya. Ia mampu meyakinkan pengikutnya, bahwa apa pun upayanya, hanyalah demi mencapai misi organisasi. Ia tidak menempatkan kepentingan pribadinya sebagai prioritas utama.

Ia orang yang menekankan pentingnya kerjasama tim. Membangkitkan inovasi adalah pekerjaannya sehari-hari. Ia sendiri bisa menunjukkan bahwa ia adalah anggota tim yang baik. Ia bangkitkan kerjasama yang harmonis pada para anggota tim organisasi itu.

Perubahan budaya yang ia canangkan, semata-mata untuk menaikkan kinerja para pengikutnya. Ia bahkan siap menerapkan sistem-sistem teknologi tinggi untuk mencapai perubahan yang berkelas tinggi.

Mendengarkan, memperhatikan, menghargai, dan melayani pengikutnya adalah perilaku sehari-hari pemimpin transformasional ini. Akibatnya, para pengikutnya dengan senang hati mengikuti apa saja yang ia katakan. Mereka telah yakin bahwa pemimpinnya itu bergerak hanya demi kebaikan mereka semua.

Ia memandang organisasi bukanlah hanya sekedar sekumpulan orang pencari nafkah. Ia melihat bahwa organisasi itu harus mampu memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar. Ia tentu saja tidak mau jika organisasinya mengakibatkan kerusakan lingkungan atau kerugian orang banyak. Ia mampu mengatur organisasinya bergerak dan beradaptasi terhadap lingkungan.

Jika orang menyelam ke kedalaman sanubari pemimpin ini, di dalamnya hanya ada cinta. Ia mencintai orang. Ia mencintai alam, ia mencintai karyawan, pelanggan, pemasok, dan pemegang saham. Cinta yang ia pancarkan itu, karena ia telah merasakan betapa ia hadir di dunia ini karena cinta, dan karena cinta dari Sang Pencinta Besar-lah ia bisa menjalankan misinya di kehidupan ini.

Oleh karenanya, ia ingin nanti membawa karyanya di dunia ini kepada Penciptanya dengan besar hati. Satu kata yang tepat mewakili pemimpin ini, ia adalah seorang pemimpin efektif, sekaligus seorang spiritualis.

Itulah sebagian saja sebab-sebab mengapa pemimpin transformasional sangat dibutuhkan organisasi sekarang ini. Para pemimpin bisnis di seluruh dunia dan para peneliti telah memujikan pentingnya penerapan kepemimpinan transformasional itu. Oleh karenanya, bacalah, selami, dan refleksikan apa yang anda baca. Saya yakin anda akan sepakat dengan pendapat para pebisnis dan para pakar tadi.

10 Hukum Kepemimpinan

oleh : Mario Gagho

Hukum 1–Pemimpin memiliki visi

Visi adalah kunci untuk memahami kepemimpinan. Seorang pemimpin sejati tidak pernah kehilangan kemampuan seperti yang dimiliki anak-anak:
berimajinasi/ bermimpi. Dan ini mereka ujudkan dalam bentuk visi; yaitu impian tentang masa depan; atau seperti melihat sebuah lukisan besar yang
mana pemimpin itu sendiri ikut melukis suatu bagiannya. Dengan demikian, visi menjadi sebuah tantangan dunia bagi setiap pemimpin untuk membuat jejak
langkah di sana, melalui kekuatan ide, kepribadian, nilai-nilai diri, dan
harapan. Bagi kepemimpinan dan pengikutnya, tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan
dan memotivasi orang daripada visi untuk mendapatkan sesuatu yang istimewa. Maka, kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk
meraih tujuan yang diminati oleh sebagian besar kelompok tersebut. Di lain pihak, tujuan tersebut menguntungkan bagi mereka. Oleh karena itu, visi
bersama haruslah menjadi perasaan yang komperehensif tentang posisi, arah, dan cara hidup untuk meraih tujuan, dan apa yang akan dilakukan ketika
tujuan it teraih. Visi seperti api ungun di perkemahan, dimana orang-orang berkumpul mengelilinginya karena cahaya, energi, kehangatan, dan
kebersamaan. Meski visi adalah impian, namun visi harus fokus dan khas. Visi yang terlalu luas akan membuat pemimpin seolah-olah berada di awang-awang dan kehilangan
keberanian untuk mencoba. Visi anda harus berpijak pada kenyataan sehingga tujuan bisa diraih dengan sukses dan tidak mematahkan semangat anda dan
orang-orang di sekitar anda.

Hukum 2–Pemimpin memiliki disiplin.

Di dunia ini berlaku hukum tak tertulis, apakah kita akan mendisiplinkan diri sendiri atau yang akan didisiplinkan oleh orang lain. Keberhasilan yang
berlangsung terus menerus tidak bisa diraih tanpa disiplin, ketekunan, dan usaha. Disiplin merupakan mandat bagi pemimpin untuk meraih tujuan dan
visi-visinya. Salah satu kesalahan besar generasi kita adalah tidak terlalu menghargai
pentingnya kedisiplinan. Banyak orang terpengaruh oleh budaya superfisial yang cenderung menolak segala bentuk pengekangan, dan mengikuti dorongan
alami diri kita untuk bersikap santai. Kita dengan mudah melupakan fakta bahwa segala sesuatu dalam hidup tidak mungkin diraih tanpa disiplin.
Sangat sering terjadi seorang pemimpin meraih sukses pada tingkat tertentu, dan kemudian berhenti dan kehilangan semangat bertarung. Mereka harus
kembali pada titik start mereka. Ini dikarenakan mereka kehilangan milik mereka yang berharga, yaitu, kedisiplinan diri.

Hukum 3–Pemimpin memiliki kebijaksanaan

Pengetahuan dapat diingat, sedangkan kebijaksanaan menembus batas-batas fisik. Kebijaksanaan adalah sesuatu yang memudahkan kita untuk menggunakan
pengetahuan secara benar. Kita hidup di jaman ledakan penegtahuan. Berbagai studi memperlihatkan bahwa setengah dari pengetahuan manusia telah ditemuan
satu dekade yang lalu dan seterusnya. Lebih lanjut, pengetahuan kita akan berlipat ganda pada dekade terakhir. Pemimpin yang efektif selalu mengembangkan pengetahuannya dengan membaca.
Mereka mengumpulkan fakta yang diperlukan sehingga tidak terbatasi dirinya dalam mengambil keputusan. Dengan berpengetahuan, seorang pemimpin tidak
takut, ragu-ragu, atau khawatir dalam menyelesaikan pekerjaan, dan terbatu untuk mengatasi banyak masalah, sekaligus merupakan alat untuk berproses.
Kebijaksanaan adalah bagaimana menggunakan pengetahuan yang dimiliki dengan sebaik-baiknya, dan mengembangkan kemampuan untuk menyatakan pendapat.
Seorang pemimpin yang efektif memiliki penglihatan kebijaksanaan bukan dari matanya, namun dari dalam dirinya. Kebijaksanaan menuntun diri seorang
pemimpin untuk mengenali suatu masalah terlebih dahulu sebelum masalah itu terlanjur menjadi besar.

Hukum 4–Pemimpin memiliki keberanian.

Keberanian seringkali diungkapkan dengan istilah yang berbeda-beda. Ada yang menyatakannya dalam istilah: kegagahan, kepahlawanan, kecerdikan. Tetapi apa
pun namanya, keberanian tidak pernah dapat didefinisikan. Keberanian adalah suatu jalan untuk mengekspresikan kekuatan di dalam diri kita, inti dari
pikiran kita untuk melawan semua keganjilan, peneguhan bagi kita untuk tetap bertahan pada posisi tersebut. Tingginya gunung Himalaya menantang keberanian seorang pendaki. Kesulitan
pekerjaan memotivasi seorang pemimpin, dan kebutuhan akan bersaing memberikan inspirasi bagi pemimpin. Kepemimpinan sejati adalah mengatakan
“ya” untuk hidup, tidak menghindar ketika tugas memanggil. Keberanian adalah bertindak dalam ketakutan, bukan tanpa ketakutan. Keberanian adalah
melakukan hal yang ditakutkan. Jika anda melakukan sesuatu tanpa takut, itu bukan keberanian. Kepemimpinan adalah perjuangan yang memerlukan keberanian. Memiliki
keberanian berarti melakukan sesuatu yang diyakini benar, dan bersedia menanggung segala resikonya. Ada beberapa alasan untuk menciptakan
keberanian: pemimpin sejati ingin hidup untuk sebuah alasan yang benar dan luhur. Pemimpin sejati sadar bahwa orang memperhitungkan mereka, organisasi
dan tim mereka, bahkan keluarga mereka. Pemimpin sejati selalu menjaga visinya menyala dalam dirinya. Inilah yang menumbuhkan keberanian.

Hukum 5–Pemimpin memiliki Kebersahajaan.

Kebersahajaan adalah karakter yang penting dalam kehidupan seorang pemimpin. Kebanyakan orang hanya memikirkan dirinya sendiri dan mengingkari bahwa
keberhasilan yang mereka raih tak terlepas dari usaha oranng lain. Kebersahajaan menghargai usaha-usaha orang lain. Itu pula mengapa
kebersahajaan selalu dihargai orang lain pula. Kebersajahaan adalah sikap untuk tidak berpusat pada diri sendiri. Banyak
frustasi, penderitaan, dan ketidakbahagiaan melanda seseorang karena mereka menjadikan diri mereka sebagai pusat kehidupan mereka. Mereka menuntut orang
lain menghargai mereka dan menjadikannya sebagai motivasi hidup. Itu membuat hidup mereka sendiri di luar fokus.
Salah satu bukti kebesaran seorang pemimpin adalah semangat rendah hati. Seseorang yang rendah hati tidak dapat dijatuhkan atau dipuji setinggi
langit. Mereka tidak akan mengambil sikap yang berbeda untuk menghadapi situasi-situasi yang berbeda seperti itu. Mereka mengerti apa yang harus
dilakukan dan menjalankan pekerjaannya dengan baik, namun mereka tidak mengharapkan penghargaan untuk setiap perolehan yang mereka capai. Pemimpin
yang bersahaja tidak memperdulikan siapa yang menghargai mereka. Bahkan mereka akan memberikan penghargaan mereka pada siapa pun tak peduli siapa
yang melakukan pekerjaan baik itu. Sedangkan pemimpin yang tidak bersahaja, tidak bersikap rendah hati, menginginkan lebih banyak penghargaan. Bagi orang semacam ini penghargaan
merupakan jaminan bagi nilai diri mereka. Memang secara alami, pemimpin cenderung bersikap arogan. Namun percayalah setiap orang selalu menilai diri
kita. Kita selalu berada di dalam perubahan yang berlangsung terus-menerus, oleh karena itu pemimpin perlu menilai diri mereka secara terus-menerus
pula.

Hukum 6–Pemimpin adalah pembuat keputusan.

Seorang pemimpin adalah orang yang melakukan tindakan. Dan, untuk itu ia harus menguasai seni membuat keputusan. Pemimpin yang efektif bekerja secara
konstan untuk mempermudah pengambilan keputusan. Ada beberapa pedoman yang mereka pegang dalam mengambil keputusan.
Pertama, mereka menjernihkan masalahnya terlebih dahulu. Mereka mengupas masalah hingga menjadi sederhana. Kedua, mereka mengumpulkan fakta. Mereka
tidak terburu-buru mengambil keputusan sebelum mengumpulkan cukup fakta. Pemimpin yang baik membuat keputusan dengan cepat, oleh karena itu mereka
harus memiliki fakta sebanyak mungkin. Mereka tidak mengandalkan asumsi. Bila masalah telah jernih dan fakta terkumpulkan, maka keputusan akan datang
dengan sendirinya. Ketiga, mereka menghindari situasi yang menekan. Mereka tidak suka mengambil
keputusan yang singkat. Cepat bukan berarti singkat. Oleh karena itu sekali membuat keputusan mereka tidak mudah untuk mengubah-ubahnya. Keempat, mereka
memperhitungkan resiko yang mungkin terjadi. Bagi mereka resiko bukan hanya sesuatu yang buruk, namun mungkin juga sesuatu yang baik. Oleh karena itu
mereka memperhitungkan nilai sebuah resiko. Kelima, mereka mempertimbangkan bagaimana keputusan yang mereka buat bisa
mempengaruhi semua orang yang terlibat. Itu berarti mereka harus mengusahakan pemikiran dari anggota tim mereka. Keenam, mereka memikirkan
dampak dari keputusan mereka hingga lima tahun ke muka, atau bahkan sepuluh
tahun ke depan. Terakhir, mereka mempertanyakan apakah keputusan mereka
legal atau tidak, bermoral atau tidak, etis atau tidak. Apakah keputusan itu
membuat hati menjadi damai atau tidak.

Hukum 7–Pemimpin mengembangkan persahabatan.

Pemimpin sejati tahu bahwa hidup ini selalu tergantung pada semangat dan bantuan orang lain. Tak ada seorang pun mampu melakukan semuanya sendiri.
Mereka berupaya dengan sungguh-sungguh membangun persahabata. Mereka menghargai teman. Bagi mereka, teman adalah pulau dimana mereka menemukan
rasa aman, dan komunikasi dapat dilakukan tanpa suara. Namun demikian, pemimpin sejati tidak memanfaatkan teman demi kepentingan mereka sendiri.
Persahabatan selalu dibangun di atas penghargaan yang setara. Untuk mendapatkan teman, pemimpin tidak berusaha membuat orang lain tertarik
pada mereka, namun mereka menumbuhkan minat pada orang lain. Mereka memilih teman bukan dari apa yang dimiliki, melainkan dari siapa teman-teman mereka.
Mereka pun mampu menghargai keberhasilan teman tanpa ada rasa iri dan cemburu.

Hukum 8–Pemimpin itu melatih dan berdiplomasi.

Pemimpin yang sukses berusaha membantu orang lain sukses dalam pekerjaannya. Mereka senantiasa melatih bawahannya untuk bisa melakukan pekerjaannya
dengan baik. Mereka mendorong orang lain mampu meraih tujuannya. Ini membuat orang-orang merasa nyaman dengan diri dan pekerjaan mereka.
Kepemimpinan itu bukan sekedar mengetahui arah perjalanan pemimpin, melainkan juga bagaimana bisa bekerja dengan orang lain secara efektif.
Dalam bekerja dengan orang lain, seorang pemimpin membutuhkan kehangatan, antusiasme, dan sesitivitas. Ini semua akan menumbuhkan loyalitas dari
orang-orang. Membangun loyalitas semacam ini membutuhkan waktu yang lama. Loyalitas hanya diberikan oleh orang-orang pada pemimpinnya hanya bila
mereka berpikir bahwa pemimpin itu cukup bernilai untuk mendapatkannya. Seorang bijak mengatakan, apa yang kita lakukan untuk diri kita sendiri akan
mati bersama kita. Sedangkan apa yang kita lakukan untuk orang lain akan diingat oleh dunia dan abadi.

Hukum 9–Pemimpin mengembangkan kemampuan eksekutif.

Para pemimpin yang sukses tahu bahwa mengembangkan ketrampilan kepemimpinan adalah usaha sepanjang hidup. Sebuah studi membuktikan bahwa hal yang
membedakan seorang pemimpin dengan pengikutnya adalah bahwa para pemimpin mempunyai kapasitas untuk mengembangkan dan meningkatkan ketrampilan mereka.
Studi itu menemukan bahwa seorang pemimpin adalah juga seorang pelajar. Orang yang sukses adalah mereka yang punya disiplin untuk mengembangkan diri
mereka. Mereka tidak statis. Mereka memiliki keberanian untuk menemukan hasil-hasil dalam jangka pendek. Bahkan mereka menyadari bahwa menjadi
pemimpin adalah sesuatu dan proses yang harus terus-menerus dipelajari. Namun demikian, pemimpin mengembangkan gayanya sendiri. Ini dikarenakan
mereka mempunyai visi dan tujuannya sendiri. Ada beberapa saran untuk mengembangkan kemampuan eksekutif. Pertama,
pelajarilah tehnik-tehnik pemimpin yang sukses. Perhatikan bagaimana mereka mengartikulasikan visi dan memberikan inspirasi bagi orang lain. Kedua,
capailah keseimbangan hidup. Segala sesuatu ini adalah bagian dari hidup, karenanya lalui dengan penuh keseimbangan. Ketiga, jagalah kepercayaan diri.
Ada saat-saat dimana seorang pemimpin meragukan diri mereka sendiri, namun pemimpin yang berhasil selalu menjaga kepercayaan diri mereka. Keempat,
asahlah kreativitas. Selalulah bertanya pada diri sendiri, bagaimana kita bisa melakukan hal yang lebih baik. Terakhir, motivasilah diri sendiri. Ini
adalah kunci keberhasilan. Pemimpin selalu memotivasi diri untuk membuat
tindakan positif dan berorientasi pada tujuan.

Hukum 10–Pemimpin memiliki kekuatan inspiratif.

Beda seorang pemimpin yang sukses dengan pemimpin lainnya, adalah kemampuan untuk membangkitkan inspirasi bagi anak buahnya. Kunci menumbuhkan inspirasi
adalah dengan bersikap antusias. Antusiasme selalu menarik perhatian orang lain dan menjaring pengikut, serta menciptakan kesenangan. Karenanya,
pemimpin selalu adalah orang-orang yang antusias. Antusiasme ditunjukkan melalui usaha keras, tidak menyerah sampai meraih sukses, dan menikmati
setiap pekerjaan yang dilakukan. Dalam upaya menumbuhkan inspirasi bagi pengikut, pemimpin bertidak sebagai figur yang diteladani. Namun, jangan campuradukkan kepemimpinan dengan
keinginan untuk dihormati. Kepemimpinan justru menarik orang untuk membuat komitmen yang paling tinggi dan memungkinkan mereka untuk bersaing.

Mental Kuli

Oleh: Mario Gagho

Ketika saya berniat melanjutkan studi ke India, ada
dua hal yg saya perlukan.Paspor dan Visa. Mengurus
paspor sebenarnya mudah dan berbiaya murah: yg
dibutuhkan cuma akte kelahiran, pas foto dan biaya
administrasi sejumlah Rp.200.000-an. Namun in the end
of the day, paspor kita baru akan beres setelah kita
'sogok sana sogok sini' dan akhirnya paspor baru
keluar dengan biaya total(formal dan 'informal')
Rp.400.000 (empat ratus ribu). Kalau tidak mengikuti
'aturan main' mungkin sebulan lamanya paspor kita baru
akan beres. Dan the game is not over yet, sewaktu saya
bayar uang fiskal(semacam pajak bagi yang mau ke luar
negeri) di airport Cengkareng, saya juga diminta lagi
'uang administrasi' oleh petugas imigrasi yang waktu
itu berhasil saya hindari.

Ketika kita masuk kantor birokrasi di Tanah Air, kita
sering melihat tampang dan sikap para pegawai yang
galak dan serem-serem, dan bersikap tidak ramah dan
sok berkuasa. Anehnya wajah-wajah sangar itu bisa
berubah menjadi sangat lembut dan sangat ketakutan
ketika menghadapi pegawai lain yang posisinya di atas
dia.

Sejujurnya, sikap 'sedapat mungkin mengambil
keuntungan tambahan' itu bukan hanya dilakukan oleh
para aparat birokrasi, tapi ironisnya dilakukan juga
oleh para dosen (dosen umum atau agama) yang notabene
merupakan "garda depan nilai keintelektualan dan
idealisme," sebagaimana kata Plato. Dengan adanya
sistem pendidikan universitas di Indonesia di mana
dosen memiliki otoritas mutlak memberikan nilai pada
mata kuliah yg dia ajarkan, memberikan suasana
kondusif
bagi para dosen untuk bersikap "meneguk laba dari
mahasiswanya yg menyerah tiada daya". Bagi dosen yang
kebetulan punya libido tinggi, 'keuntungan' itu bisa
berupa 'quick encounter' dengan mahasiswinya yg cantik
dan kebetulan bloon.

Siapa saja yang pernah punya urusan dengan
kantor-kantor pemerintah, dan para dosen (bagi
mahasiswa/mahasiswi) pasti akan menemui
kejadian-kejadian yg serupa dg apa yang saya alami
itu. Dan saya yakin satu jilid buku tebal tidak akan
cukup menampung 'kisah nyata tapi pahit' masyarakat
Indonesia setiap kali harus menghadapi tekanan batin
dan tekanan uang oleh para birokrat di kantor-kantor
pemerintahan dan para dosen keblinger tsb. Bagi rakyat
kebanyakan, situasi tidak enak itu mungkin sudah
dianggap hal lumrah, status quo, dan tidak perlu
dipermasalahkan. Hal itu wajar, terutama bagi mereka
yang tidak pernah kemana-mana dan never think and
never 'see outside the box'(tidak pernah membuat
perbandingan dg dunia luar dan nilai universal ideal).


Sikap-sikap dan thinking mentality tidak profesional
seperti yang disebut di atas dikenal dengan istilah
'mental kuli'. Sikap mental kuli ini timbul
biasanya pada suatu bangsa yang pernah dijajah dan
tidak bisa lepas dari mental anak jajahan, sistem
pemerintahan yang otoriter atau demokrasi semu
(seperti era ORBA) atau sistem kerajaaan, seperti
Saudi Arabia, dll. Di mana kompetisi sehat
berdasarkan kemampuan (meritokrasi) dan transparansi
rule of the game tidak jelas. Karenanya orang yang
sudah ngebet ingin dapat promosi jabatan, akan
berpikir bahwa jalan satu-satunya untuk naik pangkat
ya dengan menjilat kaki atasan dengan berbagai efek
sampingan yang sungguh tidak sehat: seperti budaya
memberi upeti, dan meminta upeti balik bagi siapa saja
yg membutuhkan jasanya termasuk pada rakyat-rakyat
kecil seperti yang saya alami sendiri ketika
mengurus paspor itu.

Yang agak aneh, kenapa para dosen kok juga ikut-ikutan
bermental kuli dengan meminta sejumlah upeti kepada
para mahasiswa/i-nya? Apakah ini juga disebabkan
oleh beban upeti yang dia tanggung untuk diterima jadi
dosen? Ataukah ini murni dikarenakan 'mental disorder'
atau mentally disoriented? Atauhkah ini disebabkan
oleh minimnya gaji dosen? Atau tuntutan budaya
hedonisme-materialisme yang begitu menekan pola pikir
para garda depan intelektual kita yg bernama dosen
itu? Sehingga dosen tanpa nyetir mobil jadi kurang
keren dan terhormat? Hanya para dosen-lah yg tahu
sebab yang sebenarnya.

Transparansi

Sebenarnya solusi menghilangkan jiwa mental kuli di
tubuh para birokrat itu "tampaknya" mudah, yaitu
adanya transparansi. Adanya aturan main yang jelas dan
terbuka. Siapa saja yang mengikuti aturan main dengan
benar, dia akan mendapat posisi layak sesuai dengan
kemampuannya. Dan bagi yang tidak memiliki added
value dan tak enerjik akan tetap di tempat. Pokoknya
negara dibikin sebagaimana perusahaan, dg manajemen yg
profesional. Tapi apakah profesionalisme dan
transparansi ini applicable stuff di negara kita? Itu
dia yang sulit. 32 tahun jaring laba-laba sistem
mental kuli di bawah suharto tentu tidak akan bisa
berubah dg hanya wishful thinking rakyat jelata
seperti saya. Tanpa adanya political will dari 'bapak2
pembuat kebijakan' untuk merubah sistem-sistem
intransparensi itu, saya pesimis bahkan 10 tahun lagi
(seperti harapan Cak Nur) Indonesia tidak akan berbeda
dari waktu ketika saya menggoreskan unek-uneg ini.

Kendatipun begitu, harapan saya, sambil menunggu
sistem pemerintahan dan administrasi negara yang
kondusif, saya berangan-angan buat generasi muda
seperti saya, agar ketika salah satu atau beberapa
orang dari kita menduduki posisi-posisi penting dalam
pemerintahan, watak dan sikap mental kuli (menjilat
ke atas, menginjak dan memeras ke bawah) tidak lagi
kita lakukan dengan penuh kesadaran dan komitmen
profesionalisme. Sikap egaliter dan profesional bukan
hanya kita tunjukkan ketika kita berada di belakang
meja tugas, tetapi juga dalam suasana informal, dalam
aktifitas keseharian kita.

Semoga wishful thinking ini tidak hanya sekedar
harapan tanpa gema.

Mental kuli Rakyat

Apakah rakyat biasa seperti kita juga memiliki mental
kuli? Tentu. Apabila kita, disadari atau tidak,
bersikap "manis" pada orang tertentu dan bersikap
"pahit" (muka masam) pada yg lain hanya berdasarkan
motivasi keuntungan materi, maka itu berarti dalam
diri kita telah tertanam bibit-bibit mental kuli yg
akan menjadi subur kelak ketika kita sudah mulai
terjun dalam dunia kekuasaan, seberapa kecilpun
jabatan atau kekuasaan yg akan kita pegang.[]